ARTCARE-Indonesia diinisiasii pada tahun 2006 oleh kelompok seniman bernama Soboman 219. Gerakan ini telah melakukan banyak aksi sosial di bidang kemanusiaan, pendidikan, budaya, dan lingkungan dengan melibatkan rekan-rekan seniman untuk turut berkontribusi di dalamnya.
Sejak tahun 2020 hingga 2026, ARTCARE-Indonesia dihelat bersamaan dengan pameran seni ARTJOG. Hingga saat ini ARTCARE-Indonesia telah menyalurkan hasil penjualan karya donasi melalui Keluarga ARTCARE, yang melibatkan lebih dari 50 Komunitas di seluruh Indonesia.
Yayasan Indonesia Buku dengan dua organisasi sayapnya, yakni Radio Buku dan Warung Arsip, sudah nyaris dua dekade mengikuti denyut perbukuan nasional danturut dalam kerja-kerja pendokumentasian kebudayaan. Lahir sejak 2006 di Yogyakarta, Yayasan Indonesia Buku menjadi salah satu entitas dan kantong literasi perbukuan yang intens melakukan kerja-kerja pendokumentasianberskala besar. Paling tidak, ada lima praktik pendokumentasian besar yang pernah dilakukan.
Sanggar bambu merupakan kelompok yang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan dunia kesenian seperti teater, musik, puisi dan terutama senirupa. Sanggar Bambu juga dapat dikatakan sebagai perkumpulan seniman. Sanggar Bambu didirikan pada 1 April 1959 di Yogyakarta, tepatnya di Jl. Gendingan 119 oleh Soenarto Pr bersama dengan Kirdjomulyo, Heru Sutopo, Mulyadi W, Danarto, Soeharto Pr, Syahwil, Handogo, Soemadji dan Wardoyo. Karya-karya Sanggar Bambu berupa monumen dan patung tersebar di Indonesia, diantaranya adalah monumen Gatot Subroto (Purwokerto, Ahmad Yani (Jakarta, Latuharhary (Ambon), dsb. Sanggar bambu banyak melahirkan berbagai karya-karya seni.
Selain melahirkan banyak tokoh-tokoh seni, sanggar bambu juga melahirkan tokoh dibidang seni seperti Danarto dan Emha Ainun Najib (budayawan), Abiet G Ade dan Untung Basuki musik, Putu Wijaya, Arifin C Noer dan Linus Suryadi AG (sastra), Kusno Sujarwadi, Mien Brodjo dan Adi Kurdi (film), Motinggo Boesje dan Soesilomurti (cerpen dan novel), Soenarto Pr, Mulyadi W, Irsam, Isnaeni MH, Indros, Totok Buchori dan GM Sudarta (senirupa).
Suka Pari Suka merupakan komunitas seni yang bermukim di kota Jogja. Aktif bekerja untuk penggalangan dana guna membantu seniman dikala sakit. Untuk mengumpulkan dana kas, komunitas ini melakukan penggalangan dana maupun menyelenggarakan acara.
Taring Padi dideklarasikan oleh mahasiswa, pekerja seni dan aktivis gerakan pro-demokrasi pada tanggal 21 Desember 1998 di Yogyakarta dengan nama Lembaga Budaya Kerakyatan Taring Padi. Perjuangan gerakan reformasi yang belum tercapai menjadi landasan berdirinya Taring Padi. Kemudian berdasarkan kebutuhan dan kesepakatan bersama, pada tahun 2003 menjadi Kolektif Taring Padi yang lebih terbuka, voluntarian, emansipasi dan partisipatoris. Taring Padi menggunakan seni dan budaya kerakyatan sebagai alat untuk memperjuangkan cita-citanya yaitu aktif memperjuangkan hak asasi manusia, kesetaraan gender, demokrasi, keadilan sosial, kelestarian lingkungan hidup dan solidaritas tanpa batas.
WeCare.id adalah situs web yang dibangun khusus untuk mengumpulkan dana bagi pasien-pasien yang memiliki kemampuan finansial yang terbatas & tinggal di wilayah yang sulit dijangkau. Kami bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan di seluruh Indonesia untuk menghubungkan para calon donatur dengan para pasien sehingga mereka dapat memperoleh pengobatan dan fasilitas pendukung lainnya yang menyeluruh.
SOB 219 sendiri sebenarnya adalah merupakan situs "Seni Rupa" yang melahirkan "Art Care" pada tahun 2006, yang difasilitasi tempat oleh perupa Fauzie As'ad, yang kini tinggal dan berkarya di Liechstentein. Misi "Art Care" sendiri adalah menghimpun donasi melalui penjualan karya karya Seni Rupa, yang bertujuan untuk disumbangkan dalam wujud dana Sosial dan Kemanusiaan. Rumah dengan nomor 219 di Jalan Soboman yang sekaligus studio pribadi ini juga yang menjadi cikal bakal lahirnya JAF (Jogja Art Fair) yang kemudian berubah menjadi ART JOG, pada tahun 2008.
Seiring dengan waktu, kegiatan kegiatan telah dilakukan melalui Pameran Seni Rupa, Open Studio, Agenda Diskusi dan bahkan membina Jaringan lewat pertukaran Seniman Indonesia dan Liechstentein.
Sebuah komunitas dengan beberapa Seniman yang terlibat didalamnya ini selalu berusaha membuat Event yang menarik. Dengan berkomitmen membuka kemungkinan kemungkinan baru dari pengembangan Lintas Seni Rupa Regional dan Seni Rupa Internasional khususnya di Asia dan Eropa.
Studio Grafis Minggiran is an artist collective and workshop space based in Yogyakarta, Indonesia, that focuses on developing artworks using printmaking techniques. Grafis Minggiran began her journey in 2001, initiated by graduates from the Fine Art - Printmaking faculty of the renowned Indonesia Institute of Art (ISI) Yogyakarta.
Over the years, Grafis Minggiran has grown to become a workshop and creative workspace, which can be accessed by anyone who is interested and supports the development of Printmaking as an art form, backed with our team of Artists-Mentors with strong mastery in the field.
The collective is heavily involved in group exhibitions, art projects, and also hosts education programs that brings technical workshops and live demonstrations to places, involving participants from artist groups, high schools and colleges, as well as the local community.
Grafis Minggiran has also taken part in collaborative work with various art communities, built networks with other foundations and strives to be one of the well-established Printmaking laboratories in Indonesia.
Museum Dan Tanah Liat (MDTL) merupakan ruang seni yang terletak di Bantul, Yogyakarta. Berdiri sejak 2003, Museum Dan Tanah Liat aktif menyelenggarakan pameran. Mulai dari pameran bersama maupun pameran tunggal mulai dari seni rupa maupun fotografi. Program-program pameran yang diselenggarakan di MDTL diseleksi langsung oleh kurator dan pemilik galeri, yaitu Bapak Hari Prajitno M.Sn dan Bapak Ugo Untoro. Selain program-program pameran bersama dan pameran tunggal, Museum Dan Tanah Liat juga beberapa kali memamerkan koleksinya.
SURVIVE! Garage didirikan tahun 2009 dan merupakan ruang alternatif komunitas sekaligus bengkel seni. SURVIVE! Garage bekerja dengan berbagai seniman dan komunitas di Indonesia, dan mendukung para seniman muda independen dengan menyediakan tempat untuk pameran, pertunjukan, dan workshop. SURVIVE! Garage bertujuan untuk mengaktifkan forum alternatif bagi seniman yang berada di luar budaya seni mainstream, dan menyediakan basis komunitas sebagai tempat para seniman agar dapat saling terhubung.
Oksigen Sambung Nyawa ini merupakan sebuah inisiatif kolektif lokal untuk menggalang dana membeli tabung oksigen dan kelengkapannya untuk penanganan darurat pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di Yogyakarta. Inisiatif berbagi tabung oksigen ini pun mulai tersebar luas dan kini Oksigen Sambung Nyawa pun dibantu teman-teman sukarelawan. Para sukarelawan ink mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, tapi tetap berkeinginan untuk membangun gerakan warga bantu warga melalui tabung oksigen.
Sebuah kelompok seni rupa, yang baru diberi nama TENGGARA, pada 4 Januari 2010 silam, walaupun sebenarnya para personil kelompok ini sudah sering membuat acara bersama-sama sejak akhir 90-an.
Kesadaran membuat kelompok seni rupa TENGGARA ini didesak dengan diperlukannya sebuah kesepakatan bersama. Kemufakatan delapan perupa: Agus Baqul Purnomo, Dadi Setiadi, Heri Purwanto, Luddy Astaghis, Saftari, Sumbul Pranowo, Suryadi Suyamtina dan Yaksa Agus, pada akhirnya bersepakat membentuk kelompok yang mengambil semangat budaya manual nusantara sebagai landasan spiritualnya.
Kelompok Tenggara pertama kali memperkenalkan diri pada publik pada 20 Mei 2010 melalui Pameran bertajuk Ranah Seni Tenggara. Kemudian kelompok Tenggara menjalin kerja sama dengan kelompok Matahati dari Malaysia dan Kelompok Anting-Anting dari Filiphina membuat pameran bersama Arttriagle #1;2, dan 3, kemudian membuat SAGE (Southeast Asia Art Grroup Exchange) Project. Semacam program Artist in Residency yang diperuntukkan untuk perupa muda.
Menandai usianya ke-8 tahun, kelompok TENGGARA, menggelar pameran di Jogja Gallery, dengan tajuk SEYOGYANYA, sekaligus membuat kesepakatan baru, bahwa Kelompok Tenggara akan lebih fokus mengelola kelompok seni rupa ini dengan semangat Paguyuban. Dimana Persentuhan dan arah kegiatannya lebih fokus pada kebersamaan.
KOMPORSENI di dirikan pada tanggal 31 Juli 2016, dengan 13 anggota. Keanggotaan KOMPORSENI berawal dari kesamaan visi misi dan rasa persaudaraan dan mempunyai latar belakang dalam dunia seni rupa yang sama. KOMPORSENI merupakan kelompok yang begerak di bidang seni kreatif khususnya dalam penyelenggaraan lokakarya dan workshop. Selain itu juga berupaya saling berbagi dan mengasah potensi kreatif para anggota.
Workshop yang telah KOMPORSENI adakan diantaranya Batik, Shibori, Book bending, Lukis, Patung, Mini Garden, cosplay, dan lainnya. KOMPORSENI sudah melakukan kegiatan workshop baik di jogja, maupun luar Yogyakarta bahkan luar negeri, diantaranya Malaysia dan Singapura.
Yayasan Jogja Disability Arts merupakan organisasi yang bergerak di bidang seni dan budaya dengan fokus pada pemberdayaan pelaku seni disabilitas. Yayasan ini berawal dari Difabel and Friends Community yang didirikan pada tahun 2009 di Panggungharjo, Bantul, Yogyakarta. Komunitas ini bertujuan memotivasi, menggali, dan mengembangkan potensi penyandang disabilitas baik daksa, netra, rungu wicara, maupun intelektual agar dapat hidup kreatif, mandiri, dan mampu berperan aktif dalam masyarakat melalui seni dan budaya.
SOB 219 sendiri sebenarnya adalah merupakan situs "Seni Rupa" yang melahirkan "Art Care" pada tahun 2006. Misi "Art Care" sendiri adalah menghimpun donasi melalui penjualan karya karya Seni Rupa, yang bertujuan untuk disumbangkan dalam wujud dana Sosial dan Kemanusiaan. Rumah dengan nomor 219 di Jalan Soboman yang sekaligus studio pribadi ini juga yang menjadi cikal bakal lahirnya JAF (Jogja Art Fair) yang kemudian berubah menjadi ARTJOG, pada tahun 2008.
Ba(Wa)yang atau singkatan dari bayang wayang, merupakan komunitas inklusi yang bergerak di bidang seni. Komunitas ini digerakkan oleh teman tuli, dengar dan difabel lainnya dan beralamat di jalan Langenarjan Lor No. 16 A Panembahan Kraton Yogyakarta. Komunitas ini didirikan pada tanggal 17 februari 2019 dari hasil kolaborasi antara teman-teman tuli dan Papermoon Pupet Theatre. Bentuk pertunjukan yang disajikan berupa seni bayang-bayang, pantonim, teater, puisi, bahasa isyarat, Hip-hop maupun gabungan dari beberapa bentuk pertunjukan dan sering kali berkolaborasi atau membuat kegiatan diluar bentuk pertunjukan yang sering ditampilkan tersebut.
Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya adalah kelompok seni teater tradisional Jawa yang melestarikan bentuk pertunjukan ketoprak tobong, yaitu teater rakyat dengan panggung sederhana yang menjadi tempat pertunjukan sekaligus kehidupan para senimannya. Berasal dari Kediri, Jawa Timur, kelompok ini kemudian menetap di Sleman, Yogyakarta, dan terus aktif mempertahankan tradisi ketoprak di tengah perkembangan zaman. Melalui pementasan yang memadukan dialog berbahasa Jawa, musik gamelan, serta kisah-kisah sejarah dan legenda Nusantara, Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya berkomitmen menjaga keberlanjutan seni pertunjukan tradisional sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru. Kelompok ini menjadi salah satu komunitas ketoprak tobong yang masih bertahan dan berperan penting dalam pelestarian seni budaya Jawa.
Sanggar Gelombang Bali adalah ruang kreatif bagi generasi muda untuk belajar, berkarya, dan merawat tradisi seni rupa Bali. Berakar pada tradisi lukisan khas Batuan, sanggar ini menjadi tempat bertemunya warisan budaya dengan semangat eksplorasi artistik para seniman muda. Melalui proses belajar bersama, pameran, dan berbagai kegiatan seni, Sanggar Gelombang Bali menghadirkan karya-karya yang merefleksikan kehidupan, alam, dan nilai-nilai budaya Bali. Kehadirannya tidak hanya menjadi wadah pengembangan kreativitas, tetapi juga upaya berkelanjutan untuk menjaga denyut tradisi seni Bali agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini.
Rumah Berdaya Denpasar merupakan ruang rehabilitasi sosial yang didirikan oleh Pemerintah Kota Denpasar pada tahun 2016 melalui Dinas Sosial, bekerja sama dengan komunitas kesehatan mental dan relawan seni. Program ini bertujuan mendampingi penyintas gangguan kesehatan jiwa, khususnya skizofrenia, agar dapat pulih, mandiri, dan kembali berdaya di tengah masyarakat. Rumah Berdaya menghadirkan proses rehabilitasi yang menumbuhkan kepercayaan diri serta membuka peluang bagi para peserta untuk berkarya dan berinteraksi kembali dengan lingkungan sosialnya.
Komunitas Jembatan Edukasi Siluk (JES) adalah komunitas literasi dan pendidikan berbasis masyarakat yang berlokasi di Dusun Siluk, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Didirikan pada 2015 oleh seniman dan pegiat literasi Kuat Kuart, komunitas ini berangkat dari kepedulian terhadap kondisi Sungai Oya serta kebutuhan ruang belajar kreatif bagi anak-anak desa. Bermula dari kegiatan bersih sungai dan taman bacaan di kolong jembatan, JES berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang memadukan literasi, seni, budaya, dan pendidikan lingkungan. Melalui aktivitas membaca, kelas seni, dan praktik kreatif komunitas, ruang ini menjadi tempat belajar bersama yang menghubungkan pengetahuan, alam, dan kehidupan warga.
Sanggar Teater Muara adalah kelompok seni pertunjukan yang berbasis di Yogyakarta dan aktif mengembangkan praktik teater yang memadukan tradisi lokal dengan pendekatan kontemporer. Komunitas ini dikenal melalui berbagai produksi teater dan kesenian rakyat seperti musik keroncong dan wayang. Melalui pementasan di berbagai ruang budaya seperti Taman Budaya Yogyakarta, Sanggar Teater Muara terus menghadirkan karya yang mengangkat dinamika sosial, nilai budaya, dan refleksi kehidupan masyarakat, sekaligus memperkuat ekosistem teater komunitas di Yogyakarta.
Gelanggang Olah Rasa adalah ruang kolektif seni dan komunitas yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ruang ini merupakan Community Hub yang menjadi tempat pertemuan seniman, periset, perajin dan komunitas untuk bereksperimen dengan berbagai praktik artistik, mulai dari seni rupa, pertunjukan, hingga praktik berbasis teknologi dan kerajinan. Gelanggang Olah Rasa hadir sebagai ekosistem kolaboratif yang mendorong pertukaran pengetahuan, produksi karya, serta eksplorasi gagasan lintas disiplin. Melalui program seperti pameran, lokakarya, residensi, diskusi publik, dan makerspace, Gelanggang Olah Rasa memfasilitasi praktik seni yang menekankan proses, kolaborasi, dan keterhubungan antara seni, teknologi, serta kehidupan sehari-hari dalam konteks masyarakat urban.
Komunitas Jathilan Tunggul Rukun adalah kelompok seni tradisi yang berfokus pada pelestarian dan pengembangan kesenian Jathilan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas ini beranggotakan para seniman dan warga yang secara kolektif menjaga keberlangsungan tradisi jathilan melalui latihan rutin, pertunjukan rakyat, serta keterlibatan dalam berbagai acara budaya dan upacara adat. Melalui pertunjukan yang memadukan tari, musik tradisional, dan unsur ritus, Jathilan Tunggul Rukun menghadirkan kesenian rakyat sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. Kelompok ini juga berperan dalam mentransmisikan pengetahuan seni tradisi kepada generasi muda agar praktik jathilan tetap hidup dan relevan dalam kehidupan budaya lokal.
Kelompok Masyarakat Merapi Indah Pelemsari bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan pelestarian tanaman anggrek spesies Merapi, yaitu jenis Vanda tricolor dan lain-lain. Kelompok ini berdiri sejak tahun 2007 yang pada saat itu sudah mulai melakukan budi daya tanaman anggrek Vanda tricolor yang dimulai dengan indukan sebanyak lima anggrek dan mulai berkembang. Namun pada tahun 2010 terkena erupsi Gunung Merapi dan akhirnya pada tahun 2011 kami memulai kegiatan pasca erupsi Merapi dengan melakukan reboisasi yang berwujud penanaman pohon di lingkungan wilayah Dusun Pelemsari dan sekitarnya. Mencermati dan melihat kondisi pasca erupsi Merapi, anggrek dan pepohonan habis terkena dampak dari erupsi Gunung Merapi sehingga kami sebagai kelompok masyarakat berkeinginan untuk kembali melestarikan tanaman anggrek, khususnya spesies Merapi yang mulai punah.
Difa Kembang Selatan adalah kelompok seni komunitas yang beranggotakan penyandang disabilitas dan relawan yang berbasis di Daerah Istimewa Yogyakarta. Komunitas ini berfokus pada pengembangan seni sebagai ruang ekspresi, pemberdayaan, dan partisipasi budaya bagi difabel. Dalam praktiknya, kelompok ini juga mendorong kerja kolektif antara difabel dan non-difabel, sehingga seni menjadi medium pertemuan sosial yang memperkuat solidaritas, kepercayaan diri anggota, serta keterlibatan difabel dalam kehidupan budaya masyarakat.
Kelompok Api Kata Bukit Menoreh merupakan komunitas perupa yang berdiri pada 7 April 2017 di Kulon Progo. Kelompok ini lahir sebagai ruang bersama bagi para anggotanya untuk menyalurkan minat menulis puisi sebagai bentuk ekspresi yang melengkapi praktik berkarya dalam seni rupa. Nama “Api Kata” mencerminkan semangat kelompok untuk menyalakan inspirasi melalui kata dan karya, sementara “Bukit Menoreh” merujuk pada wilayah Pegunungan Menoreh sebagai tempat asal dan aktivitas sebagian besar anggotanya. Melalui puisi dan seni rupa, kelompok ini mendorong proses kreatif yang saling memperkaya sekaligus memperkuat kualitas karya para anggotanya.
Sekolah Gajah Wong merupakan ruang belajar alternatif yang diinisiasi oleh Gerakan Kaum Jalanan Mandiri (GKJM) di kawasan bantaran Sungai Gajah Wong, Yogyakarta. Sekolah ini lahir sebagai upaya pemberdayaan anak-anak dan remaja dari keluarga marjinal, khususnya yang hidup di sekitar bantaran sungai, dengan menyediakan akses pendidikan informal, kegiatan kreatif, serta ruang belajar yang inklusif. Melalui pendekatan pendidikan berbasis komunitas, Sekolah Gajah Wong menghadirkan berbagai aktivitas seperti kelas belajar dasar, literasi, seni, musik, dan diskusi sosial. Program-program tersebut bertujuan membangun kemandirian, kepercayaan diri, serta kesadaran sosial bagi para pesertanya, sekaligus memperkuat solidaritas komunitas di lingkungan sekitar.
Kelompok KESINI@N adalah gerakan aktivitas perupa di Kabupaten Kulon Progo yang terbentuk sejak 2009, berawal dari penyelenggaraan pameran Wajah-Wajah 2009. Anggotanya berasal dari latar belakang profesi yang beragam seperti guru, petani, dan tokoh masyarakat yang menjadikan praktik berkesenian sebagai bagian dari kehidupan sosial sehari-hari. Melalui pameran dan keterlibatan dalam kegiatan seni budaya lokal, kelompok ini menghadirkan karya yang merefleksikan spiritualitas dan kearifan lokal masyarakat agraris, sekaligus merespons perubahan sosial yang terjadi di Kulon Progo seiring pergeseran dari kehidupan lokal menuju perkembangan kawasan yang lebih urban.
Imajiner Atelier berdiri pada tanggal 9 Agustus 2019 di Yogyakarta, berawal dari tempat lokakarya, studio, dan ruang pamer beberapa seniman seni rupa murni dan dekoratif yang memiliki kesamaan visi, misi, rasa persaudaraan dalam seni, serta latar belakang ketertarikan pada seni rupa dan seni pertunjukan. Imajiner Atelier bergerak di bidang seni kreatif melalui penyelenggaraan pameran, kompetisi seni, lokakarya/workshop, serta kegiatan seni yang peduli sosial kepada masyarakat, sekaligus menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi, dan mengasah potensi kreatif anggota demi perkembangan seni bagi individu dan masyarakat luas.
Berangkat dari keprihatinan bahwa bakat anak sering tidak berkembang karena beban sekolah, orang tua dan lingkungan, Ruang Anak hadir untuk memberi wadah agar anak bebas berekspresi, berimaginasi dan menuangkan karya tanpa tekanan harus bagus atau rapi. Ruang Anak terbuka bagi semua anak dengan berbagai latar belakang, saat ini berisi anak-anak yang memiliki ketertarikan di dunia seni rupa, dengan harapan dapat menjaga dan merawat orisinalitas anak berkembang sesuai bakatnya.
Yayasan Seni Rupa Komunitas (YSRK) adalah lembaga yang bergerak di bidang seni rupa berbasis masyarakat. Yayasan ini didirikan pada tahun 1993 oleh seniman Indonesia Moelyono, yang dikenal dengan pendekatan seni rupa penyadaran (conscientization art). Melalui pendekatan ini, seni digunakan sebagai alat untuk membangun kesadaran sosial serta memberdayakan masyarakat.
YSRK berfokus pada kerja-kerja seni yang berhubungan langsung dengan kehidupan komunitas. Kegiatannya meliputi pendampingan masyarakat, pendidikan seni, serta proyek seni partisipatif di berbagai daerah. Program-program yayasan ini pernah dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia seperti Pacitan, Surabaya, Lombok, Aceh, hingga Wamena, dengan tujuan memperkuat kesadaran sosial, kreativitas, dan partisipasi masyarakat melalui praktik seni rupa.
Melalui kegiatan seni berbasis komunitas, YSRK berupaya menjadikan seni bukan hanya sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, refleksi sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Sanggar Lukis Watu Gelar adalah ruang kreatif di Banggan, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo yang menjadi tempat bagi anak-anak dan masyarakat berkegiatan seni lukis, termasuk eksperimen media seperti melukis di batu putih, serta saling berkarya dan belajar bersama. Kegiatan sanggar ini juga terintegrasi dengan taman baca sebagai ruang pembelajaran kreatif untuk anak‑anak.
Sanggar Lumbung Kawruh adalah wadah belajar alternatif yang dirintis sejak 2014 di Dusun Ngurak-Urak, Kalurahan Petir, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul oleh Ribut Subronto bersama kawan-kawannya. Berangkat dari keinginan menghadirkan ruang berbagi pengetahuan di luar pendidikan formal, sanggar ini terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar maupun membagikan ilmu. Kegiatan di Lumbung Kawruh berlandaskan nilai Tular Sawrung yang mencakup tujuh pilar: Seni, Rasa, Akhlak, Wawasan, Unggah-Ungguh, Niaga, dan Guyub atau Gotong Royong. Hingga kini, sanggar ini menjadi ruang belajar bersama bagi anak-anak dusun untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta semangat berbagi dan berorganisasi melalui berbagai kegiatan literasi dan kolaborasi komunitas.
Komunitas Sekar Nyentrik adalah ruang kreatif masyarakat seni yang berbasis di Dusun Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Komunitas ini bergerak dalam pengembangan seni dan budaya lokal dengan membuka ruang bagi seniman, pelaku budaya, serta masyarakat untuk berkarya, berdiskusi, dan menampilkan karya seni berbasis komunitas.
Salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas ini adalah Paceklik Culture Festival, sebuah festival seni dan budaya yang menghadirkan sarasehan budaya, pameran, serta berbagai pertunjukan seni. Festival tersebut terinspirasi dari peristiwa paceklik (krisis pangan) yang pernah terjadi di Gunungkidul pada tahun 1963 dan dihadirkan sebagai cara untuk mengenang sejarah sekaligus menghidupkan kembali kesadaran budaya melalui seni.
Melalui berbagai kegiatan seni, festival budaya, dan kolaborasi dengan komunitas lain, Komunitas Sekar Nyentrik berupaya memperkuat ekosistem kebudayaan lokal, memberikan ruang ekspresi bagi seniman, serta mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian dan pengembangan budaya di Gunungkidul.
Sekolah Pagesangan adalah ruang belajar komunitas yang didirikan pada tahun 2008 oleh Dian Widuretno di Desa Wintaos, Girimulyo, Panggang, Gunungkidul. Komunitas ini menggunakan pendekatan pendidikan kontekstual untuk menghubungkan anak-anak, remaja, dan masyarakat dengan pengetahuan lokal, praktik pertanian, serta lingkungan hidup di desa mereka.
Berangkat dari kebutuhan masyarakat setempat, Sekolah Pagesangan menjadi platform berbagi pengetahuan antar generasi, menjaga sistem pangan lokal, serta mengembangkan ekonomi alternatif berbasis komunitas. Melalui berbagai kegiatan belajar bersama, komunitas ini juga berupaya memahami tantangan pembangunan, perubahan sistem pangan global, dan mempertahankan kedaulatan masyarakat desa atas tanah, pengetahuan, dan sumber penghidupan mereka.
Kulila Jogja Playgroup adalah ruang pendidikan untuk anak-anak usia 3 hingga 6 tahun dengan pendekatan yang terinspirasi dari konsep pendidikan Waldorf oleh Rudolf Steiner. Metode ini memungkinkan anak menikmati setiap tahap perkembangan secara tidak terburu-buru dengan mengintegrasikan pikiran (thinking), perasaan (feeling), dan kehendak (willing) melalui kepala, hati, dan tangan.
Anak-anak belajar melalui peniruan dan permainan imajinatif dengan berbagai kegiatan yang meaningful. Di Kulila, anak-anak bermain dengan bahan alami seperti kerang, biji-bijian, batu, boneka sederhana, mainan kayu, kain, dan sabut kelapa yang mendorong fantasi dan pemikiran kreatif. Kulila menyediakan lingkungan hangat seperti rumah agar anak merasa nyaman dan aman serta menumbuhkan rasa syukur, cinta, dan hormat akan kebaikan semesta.
Sanggar Seni Kinanti Sekar adalah ruang belajar seni dan budaya yang berdiri di Yogyakarta sejak 2015, yang fokus pada pengembangan potensi seni sebagai kebebasan berekspresi dan pelestarian akar budaya melalui pembelajaran tari, pantomim, dan aksara Jawa. Sanggar ini menyediakan kelas reguler dan program kebudayaan yang memperkuat kreativitas, apresiasi seni, serta interaksi sosial peserta dari berbagai usia, sekaligus menjadi ruang pembelajaran yang kontekstual dan bersahabat dengan lingkungan
Teater Braille adalah komunitas seni teater di Yogyakarta yang dibentuk sekitar 2019–2020 dan seluruh anggotanya adalah penyandang disabilitas netra (tunanetra). Mereka berkarya dengan menampilkan pertunjukan teater yang diterjemahkan dalam huruf braille dan suara, serta berupaya mengubah stigma negatif terhadap difabel melalui karya seni dan pementasan kreatif.
Komunitas Resan Gunungkidul adalah gerakan swadaya berbasis masyarakat di Kabupaten Gunungkidul yang fokus pada konservasi sumber daya air. Anggotanya terdiri dari individu yang peduli lingkungan dan tergerak untuk menjaga serta melestarikan alam dan elemen pendukungnya. Gerakan ini menekankan kerelaan, gotong royong, dan rasa seduluran sebagai spirit dan pengikatnya. Kegiatan komunitas meliputi menanam pohon, merawat sumber air, membuat pembibitan mandiri, serta mengajak masyarakat menjaga lingkungan dengan budaya dan kearifan lokal sebagai jalan berinteraksi. Komunitas ini bukan organisasi formal, tanpa legalitas, pengurus, atau program pihak tertentu, namun terbuka untuk kerja sama berdasarkan niat, tujuan, kesetaraan, saling menghargai, dan menjaga marwah masing-masing entitas.
Taman Baca Masyarakat Galeri Kreatif di Dusun Sukosari, Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang adalah ruang edukasi dan literasi yang dibangun untuk menjembatani kesenjangan akses belajar bagi anak‑anak, terutama anak buruh migran. Galeri Kreatif awalnya diprakarsai oleh Muzaki S.Pd sejak 2011, menyediakan taman baca gratis, pendampingan belajar, dan kegiatan edukatif lainnya tanpa biaya, serta menjadi ruang berkumpul dan belajar bagi masyarakat desa.
KB AL-MUQSITHIN merupakan salah satu sekolah jenjang KB berstatus Swasta yang berada di wilayah Kec. Montong Gading, Kab. Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. KB AL-MUQSITHIN didirikan pada tanggal 14 November 2013 dengan Nomor SK Pendirian 713/PLS/2013 yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan adanya keberadaan KB AL-MUQSITHIN, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa di wilayah Kec. Montong Gading, Kab. Lombok Timur.
Komunitas Malanggati merupakan Sebuah komunitas yang berdiri pada tahun 2012 karena keprihatinan tentang sebuah lingkungan padat yang penuh problematik. Melalui komunitas ini para generasi muda yang memiliki potensi dapat menyalurkan ekspresi melalui seni. Hingga beberapa tahun kemudian, mulai terlihat dampak kemajuan dan manfaatnya bagi lingkungan.
Komunitas Sinuruk Mattaoi adalah komunitas pemuda Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang resmi berdiri pada 28 Oktober 2022. Dibentuk oleh para pelajar dan mantan pelajar yang peduli pada pendidikan, seni, budaya, serta pelestarian tradisi Mentawai, komunitas ini bergerak di bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan seni. Tujuannya adalah meningkatkan sinergi antara ilmu pengetahuan muda dan tua dalam kehidupan sosial yang berlandaskan pendidikan budaya Mentawai, serta merawat warisan nenek moyang melalui literasi dan ilmu pengetahuan modern. Berbagai kegiatan dijalankan, mulai dari pelatihan kerajinan tangan, belajar sejarah dan obat-obatan Mentawai, pendokumentasian hutan adat, hingga produksi film pendek, sehingga menjadi ruang kreatif bagi generasi muda untuk menjaga budaya sekaligus berinovasi.
Berdiri tahun 1978, Subandi Giyanto Art Studio merupakan studio yang bersifat indipenden, non politik, dan non partisan. Berfokus pada pengembangan seni rupa berbasis tradisi, Subandi Giyanto Art Studio juga berfungsi sebagai sanggar tatah sungging wayang kulit gaya Yogyakarta, melukis kaca, wayang beber, pawukon, dan pranata mangsa. Subandi Giyanto Art Studio turut serta dalam pembinaan keterampilan masyarakat dalam hal seni tradisi. Permbinaan ini bersifat gratis untuk masarakat sekitar. Sedangkan untuk masyarakat umum, lembaga, atau individu dikenakan biaya pembinaan sesuai kesepakatan kedua belah pihak.
Trash Hero Yogyakarta adalah komunitas lingkungan yang berdiri pada 7 Agustus 2022 di Kota Yogyakarta, diinisiasi oleh M. Habib Syaifullah, Agnesia Nurmaliza, dan rekan-rekan dari Yayasan Bintang Kidul. Komunitas ini merupakan bagian dari gerakan global Trash Hero yang lahir di Thailand pada 2013, dan hingga kini berkembang di berbagai negara melalui jaringan relawan. Dikelola sepenuhnya oleh relawan tanpa gaji, Trash Hero Yogyakarta hadir untuk mewujudkan bumi yang bersih, sehat, dan bebas dari polusi plastik dengan misi mengakhiri ketergantungan terhadap plastik sekali pakai, membangun gaya hidup zero waste, serta mendorong circular economy di masyarakat. Melalui kegiatan rutin seperti aksi bersih mingguan, edukasi di sekolah dan komunitas, kolaborasi lingkungan, hingga program Trash Hero Kids, mereka berupaya menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa persoalan sampah harus diselesaikan sejak dari hulu dengan cara membatasi dan mengurangi timbulannya.
Karanganyar – Taman Kabudayan, yang hadir pada akhir 2016 di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, adalah sebuah ladang rekreasi dan pembelajaran yang menggabungkan ilmu, pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya bagi keluarga besar Karanganyar. Taman ini bertujuan melestarikan nilai-nilai budaya lokal dan kearifan hidup yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi tempat edukasi, rekreasi, dan pengembangan karakter melalui konsep sengkuyungan (gotong royong). Dengan mengedepankan prinsip kemurnian, bebas dari kepentingan politik dan komersial, serta didukung oleh dana koperasi dan donasi, Karanganyar – Taman Kabudayan berfungsi sebagai wadah bagi keluarga dan generasi muda untuk belajar, berkreasi, serta menjaga warisan budaya agar terus relevan dan bermanfaat bagi masa depan.
Paguyuban Jathilan Cipto Manunggal adalah kelompok seni tradisional yang berdiri pada 18 Agustus 1981 di Kampung Tidar Warung, Kelurahan Tidar Selatan, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah. Komunitas ini menampilkan kesenian jathilan—atau kuda kepang—yang memadukan tari, gamelan, dan ritual, menggambarkan perjuangan rakyat di masa lalu dengan properti kuda tiruan dari bambu. Dipimpin oleh tokoh setempat, paguyuban ini hadir untuk melestarikan kesenian Jawa sekaligus mendidik generasi muda agar mencintai budaya, menanamkan rasa tanggung jawab, serta menjaga warisan leluhur melalui latihan, pementasan, dan pembinaan rutin. Dengan dukungan perias, penabuh gamelan, hingga pawang, setiap pertunjukan jathilan dihidupkan dengan dinamika gerak, musik, dan cerita perjuangan yang sarat makna sejarah serta spiritualitas.
Komunitas Beksa Ki Bogem merupakan kelompok kesenian tradisional yang berlokasi di Bogeman Wetan, Kelurahan Panjang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Komunitas ini berdiri beberapa tahun lalu dan memberikan wadah bagi generasi muda untuk mengembangkan minat dan bakat di bidang seni tradisional, terutama seni tari dan musik, seperti pertunjukan Jathilan dan Buto Kosek. Visi komunitas adalah menjadi tempat bagi generasi muda untuk bergerak dan memanfaatkan waktu mudanya dengan hal-hal positif dalam bidang seni tradisional lokal. Misi komunitas meliputi mensosialisasikan kebudayaan lokal, memberikan praktik pengembangan untuk melestarikan budaya, serta memberikan pendampingan dan arahan agar sesuai tujuan awal. Kegiatan komunitas mencakup pertemuan dan latihan rutin setiap bulan, serta partisipasi dalam berbagai festival lokal, dengan anggota yang berasal dari wilayah sekitar Bogeman Wetan.
Kiprah Perempuan adalah komunitas perempuan korban dan penyintas pelanggaran HAM berat 1965 di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibentuk dalam rangka memutus lingkar impunitas pelanggaran HAM melalui mengupayakan penerimaan masyarakat, membangun kemandirian dan keberdayaan, mendorong akses layanan publik, serta menjamin perlindungan dan keamanan. Komunitas ini menjalankan berbagai upaya seperti mendorong regulasi, reparasi penuh, pengungkapan kebenaran, rekonsiliasi, advokasi, penulisan sejarah alternatif, hingga revitalisasi kelompok korban di DIY, dengan dukungan media seni, budaya, dan jaringan kerja sama. Seluruh kegiatan Kiprah Perempuan dilandasi nilai-nilai kemandirian, kesetaraan, kebersamaan, kerelawanan, kreativitas, serta komitmen untuk saling menghargai dan memberdayakan secara berkelanjutan.
Taman 65 adalah sebuah ruang ingatan yang didirikan pada tahun 2005 oleh I Gusti Ketut Agung (Agung Alit) di Jalan WR Supratman 193, Kesiman, Denpasar, Bali. Tempat ini lahir sebagai bentuk penghormatan dan upaya mengenang para korban tragedi 1965, termasuk ayahnya, serta sebagai sarana untuk mewariskan ingatan tentang peristiwa kelam yang terjadi di Bali. Taman 65 berfungsi sebagai ruang edukasi, dialog, dan rekonsiliasi, serta tempat untuk seni dan diskusi publik yang bertujuan untuk melawan pelupaan terhadap sejarah kelam tersebut. Dengan semangat "forgive but never forget," Taman 65 mengajak masyarakat untuk bersama-sama belajar, mengingat, dan menyuarakan kebenaran sejarah melalui berbagai kegiatan reflektif yang terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut serta.
Yayasan Odesa Indonesia adalah lembaga sosial-budaya yang berdiri resmi pada 5 April 2017 di Bandung, Jawa Barat. Visi utamanya adalah menjawab persoalan-persoalan kehidupan masyarakat pedesaan dari golongan kaum papa, atau keluarga petani pra-sejahtera (sangat miskin), agar mereka dapat hidup lebih produktif, berdaulat, dan berkeadaban. Fokus gerakannya mencakup ekologi melalui konservasi agroforestry, literasi lewat pendidikan nonformal bagi petani dan anak-anak desa, serta sanitasi melalui penyediaan air bersih dan toilet. Berpegang pada falsafah Membumi dalam Kebersamaan, Memperbaiki Indonesia dari Desa, Mengubah Keadaan Bersama, dan Bisa Karena Biasa, Odesa aktif setiap hari melakukan pemberdayaan di bidang pangan, ternak, literasi, dan teknologi melalui pelatihan, pendampingan, hingga kemitraan. Dengan cara itulah Odesa Indonesia berkomitmen memperbaiki Indonesia dari desa.
Disabilitas Berkarya adalah sebuah komunitas sosial yang berdiri pada 27 April 2016 di Surabaya, Jawa Timur, dengan tujuan menjadi medium alternatif bagi pengembangan potensi seni anak-anak berkebutuhan khusus, seperti memberikan pelatihan keterampilan untuk anak berkebutuhan khusus, mendorong anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkembang dan berprestasi, meningkatkan pendidikan, keterampilan, serta kesejahteraan sosial. Komunitas ini dipimpin oleh Leo Arief Budiman bersama tim, dan fokus pada peningkatan pendidikan, keterampilan, serta kesejahteraan sosial anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui berbagai kegiatan pelatihan seperti memotret, membatik, hingga shibori, Disabilitas Berkarya berupaya mendorong anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkembang, berprestasi, dan menemukan ruang berekspresi melalui karya seni.
Misi Disabilitas Berkarya:
Sanggar Sripanglaras didirikan oleh pasangan seniman Surajiyo dan Sri Wuryanti di Dusun Pripih, Desa Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo, pada tahun 1991 dan secara resmi dilembagakan kembali pada tahun 2001 setelah sempat vakum akibat krisis moneter. Sanggar ini menjadi tempat pengembangan seni tari khas Kulon Progo, khususnya tari Angguk Putri yang pertama kali mereka gagas. Hingga kini, Sripanglaras aktif sebagai wadah pelestarian budaya dengan melibatkan anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga penyandang disabilitas, melalui latihan rutin dan program inklusif yang memberi ruang bagi siapa saja untuk belajar seni tari.
Sahabat Pemerhati Difabel dan ODGJ (SAPADIFA) adalah sebuah yayasan yang didirikan sejak 2006 di Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, sebagai wadah siapa saja yang peduli terhadap penyandang disabilitas dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Yayasan ini bertujuan untuk melakukan pendampingan, pemberdayaan, dan advokasi hak-hak difabel serta ODGJ agar memperoleh kesempatan dan kehidupan yang layak. Kegiatan bagaimana pelaksanaannya mencakup pelatihan wirausaha (seperti membatik, budidaya jamur, peternakan ayam), distribusi hewan kurban, screening kesehatan mental dan fisik, serta kerja sama lintas institusi lokal. SAPADIFA berperan sebagai jembatan antara difabel/ODGJ dengan pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan inklusi sosial yang berkelanjutan
AKSERA Surabaya, atau Lembaga Pengembangan Seni Rupa Surabaya, didirikan pada tahun 1967 sebagai lembaga non-profit untuk mengembangkan seni rupa di Surabaya dan Jawa Timur. Lembaga ini menyelenggarakan pelatihan seni rupa formal dan non-formal, pameran, program residensi, serta kelas edukasi bagi masyarakat umum, terutama pemuda, anak-anak, dan seniman muda. AKSERA bertujuan melahirkan seniman profesional dan individu kreatif yang mampu memanfaatkan keahlian seni untuk kehidupan ekonomi dan budaya. Meskipun menghadapi berbagai tantangan sejarah, termasuk pasca kerusuhan 1965-1966 dan perubahan gedung, AKSERA terus berkomitmen memajukan seni rupa melalui suasana belajar yang kekeluargaan, kreatif, dan inovatif. Nilai inti AKSERA adalah kebebasan berkarya, inovasi, dan kontribusi terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia.
Yayasan Spedagi Mandiri Lestari, yang berkantor pusat di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, didirikan pada tahun 2017 oleh Singgih S. Kartono dan Tri Wahyuni sebagai bentuk legalisasi gerakan sosial Spedagi, yang awalnya lahir dari kegiatan bersepeda dan produksi sepeda bambu sejak 2013. Yayasan ini bergerak untuk merevitalisasi desa melalui pendekatan kreatif, membawa desa menjadi komunitas lestari dan mandiri, dengan berbagai program seperti desain dan pemasaran sepeda bambu, homestay, Pasar Papringan, tur edukasi desa, kelas edukasi, serta kolaborasi gotong royong dengan komunitas lokal dan internasional. Fokusnya adalah mengembalikan desa sebagai tempat hidup masa depan yang nyaman, kreatif, dan sejahtera, sambil mengedukasi generasi muda dan mengerahkan sumber daya eksternal untuk pengembangan desa. Spedagi juga aktif menyelenggarakan konferensi internasional (ICVR) untuk menyebarkan gerakan ini secara global. Nilai inti yayasan adalah mandiri, kreatif, dan lestari, dengan visi mewujudkan distribusi populasi manusia yang seimbang antara desa dan kota.
Sanggar Dongkrek Condro Budoyo berdiri sejak 2001 di Sumberbening, Balerejo, Madiun, Jawa Timur, dengan tujuan melestarikan dan mengenalkan kesenian tradisional Dongkrek kepada generasi muda. Didirikan oleh Trisakti Hendrianto, sanggar ini telah menjadi tempat bagi para pemuda untuk belajar dan mengembangkan tari tradisional yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Madiun. Kesenian Dongkrek sendiri merupakan sebuah rangkaian tarian yang bertujuan untuk menolak bala dan mengusir bahaya, yang dahulu digunakan sebagai ritual untuk mengatasi wabah penyakit yang melanda daerah tersebut. Dalam tarian ini, berbagai tokoh seperti Mbah Palang, Perot, Si Cantik, dan genderuwo digambarkan untuk menggambarkan perjuangan masyarakat melawan bencana yang mengancam keselamatan mereka.
Seiring berjalannya waktu, Dongkrek Condro Budoyo semakin dikenal di kalangan masyarakat, terutama dengan keikutsertaan anak-anak muda yang bersemangat mempelajari seni tradisional ini. Trisakti Hendrianto, sang pendiri yang kini berusia 55 tahun, sangat mengapresiasi semangat para anggotanya yang terdiri dari remaja-remaja yang ingin melestarikan budaya lokal. Baginya, semangat dan dedikasi anak muda ini adalah kunci agar Dongkrek tetap hidup dan berkembang. Ia berharap, pertunjukan kesenian ini tidak hanya tetap ada, tetapi juga terus digelar dalam berbagai acara seperti hajatan, pernikahan, hingga pesta rakyat, sehingga bisa menginspirasi lebih banyak orang untuk mengenal dan mencintai kesenian tradisional Madiun yang sarat dengan nilai sejarah dan budaya tersebut.
Sebuah kelompok beranggotakan tunanetra sebagai pelaku dan pandemen kethoprak gaya mataraman. Kelompok ini pada awalnya bernama TUTRA BUDAYA (TUTRA berasal dari Tuna Netra) yang terbentuk pada tahun 2012, kemudian berubah pada tahun 2013 menjadi DISTRA BUDAYA. Beranggotakan 25 orang dengan kisaran usia 45 tahun ke atas, beralamat di kampung mangkukusuman RT.01/RW.01 GK 4/1413 Yogyakarta.
Miracle Prints (MP) didirikan pada Desember 2015 di Yogyakarta oleh Ria Novitri, Syahrizal Pahlevi, Reno Megy Setiawan, dan Alie Gopal sebagai ruang alternatif studio grafis sekaligus artshop seni rupa. Lahir dari pengalaman Teras Print Studio (2009) dan Teras Management (2013), MP memperluas aktivitas seni grafis melalui pameran, workshop, residensi, hingga program internasional seperti Jogja International Miniprint Biennale (JIMB) dan kolaborasi dengan berbagai galeri di Indonesia maupun luar negeri. Selama perjalanannya, MP berpindah ruang di beberapa lokasi di Yogyakarta hingga akhirnya tutup fisik pada Maret 2023, dan kini melanjutkan aktivitas secara daring serta bekerja sama dengan berbagai ruang seni lain. Melalui galeri, studio cetak, dan mini artshop yang saling menunjang, Miracle Prints menjadi ruang yang menghadirkan produksi, edukasi, dan distribusi seni grafis yang konsisten mendukung perkembangan seni rupa kontemporer.
Merupakan paguyuban kesenian musik bambo yang berdiri tgl 10 Januari 2016, beranggotakan Tunanetra, beralamat di Badran Kidul kelurahan Bumijo Kecamatan Jetis. Jumlah anggotanya 25 orang dengan usia diatas 35 tahun.
SENIRUPA.id adalah platform media digital yang sejak dua tahun terakhir telah menerbitkan 45 artikel dan konten media sosial seputar praktik dan wacana seni rupa kontemporer di dan dari Indonesia. Berbasis di Indonesia, SENIRUPA.id menyoroti isu-isu seni rupa personal, kolektif, maupun institusional melalui rubrik Pameran, Figur, Esai, Situs, Biennale, dan Pasar. Situs ini juga aktif berbagi melalui Instagram @senirupaid dengan tujuan memperkaya wacana seni rupa Indonesia dan menghadirkan ruang diskusi yang dapat diakses publik, pelaku seni, kritikus, kurator, maupun penikmat seni
Krack! Printmaking Collective didirikan di Yogyakarta pada Mei 2013 oleh Rudi Hermawan, Prihatmoko Moki, Malcolm, dan Sukma Smita sebagai ruang berbagi untuk memfasilitasi produksi dan pameran karya seni cetak grafis. Pada periode 2013–2019, ruang ini dikenal dengan nama Krack Studio, kemudian sejak 2019 bertransformasi menjadi kolektif dengan format keanggotaan interdisipliner. Krack! memiliki ruang fisik yang mencakup galeri, loka pasar, ruang kerja bersama, studio, kamar residensi, dapur, dan ruang diskusi, yang dihidupi oleh berbagai program seperti pameran kolektif, workshop, sewa studio, editioning, riset sejarah seni cetak, hingga diskusi bulanan. Dengan semangat kolektif dan eksperimen, Krack! berupaya memperpanjang nafas seni cetak grafis, mengontekstualisasikan praktiknya, serta berkontribusi dalam dinamika seni kontemporer di Indonesia.
Paguyuban Seni Srandhul “Suketeki” yang beralamat di Karangmojo RT 3 RW 2, Tamanmartani, Kalasan, Sleman, DIY, merupakan komunitas seni yang bergerak dalam pelestarian kesenian rakyat Srandhul, sebuah drama tari tradisional yang sudah ada sejak masa Sunan Kalijaga. Paguyuban ini dibentuk sebagai upaya nguri-uri (melestarikan) dan ngurip-urip (menghidupkan kembali) Srandhul yang kini terancam punah, dengan cara memainkan cerita-cerita klasik maupun tema kekinian seperti anti korupsi, good governance, wabah COVID-19, hingga kritik sosial. Dalam setiap pementasan, mereka melibatkan generasi muda, termasuk kelompok teater kampus, agar seni tradisi ini tetap relevan dan diminati. Melalui pementasan yang adaptif dengan perkembangan zaman, Paguyuban Seni Srandhul“Suketeki” berkomitmen menjaga eksistensi Srandhul sebagai media tontonan sekaligus tuntunan masyarakat.
Sumbawa Visual Art adalah komunitas seni rupa yang berdiri sejak 2014 di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat, dipimpin oleh Hallen Muchlis dan beralamat di Taman Seni Creative Space, Komplek Panto Daeng, Kelurahan Brang Bara, Sumbawa Besar. Komunitas ini lahir dari kegelisahan para perupa Sumbawa setelah pameran perdana bertajuk Sumbawa Welcome di Istana Bala Putih, yang kemudian menjadi wadah pengembangan seni rupa lokal. Sejak itu, Sumbawa Visual Art menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti Sumbawa Street Art, Warna Warni Kota Kita, Sketsa Ramadan, serta pameran bertaraf nasional seperti Indonesian Idea dan BESIRU yang didukung Pemda Sumbawa, Yayasan Kelola, Kedutaan Denmark, dan Kemenparekraf RI. Selain pameran dan kolaborasi lintas disiplin, komunitas ini juga memiliki tujuan membentuk wadah bagi masyarakat pecinta seni untuk menyalurkan energi ke arah positif, mengedukasi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi kreatif dan inovatif, serta mendorong lahirnya usaha-usaha baru berbasis kreativitas yang dapat mengharumkan nama daerah.
Galerikertas Studiohanafi adalah ruang pamer, proses, dan berbagi metodologi seni yang didirikan pada 2018 di bawah naungan Studiohanafi, organisasi seni budaya nirlaba yang dibangun perupa Hanafi sejak 1999 di Sawangan, Depok. Galerikertas mendukung kolaborasi antara seniman berpengalaman maupun pemula melalui pameran, lokakarya, dan program residensi, serta telah menghadirkan pameran penting seperti 60 Tahun dalam Studio, QYV Prospectrum, Ondel-ondel: Yang Rural dan yang Urban, Kolo Nguntal Bulan, The Scroll Painting, hingga suara . pada. Sebagai platform seni, Galerikertas tidak hanya menyediakan wadah bagi seniman untuk menyalurkan kreativitas, tetapi juga menjadi pusat pelatihan dan pengembangan wacana seni budaya lintas disiplin.
Bondalem Eco Dive berdiri pada tahun 2017 di Desa Bondalem, Tejakula, Buleleng, Bali, sebagai pusat penyelaman berbasis komunitas yang mendukung konservasi laut. Latar belakang pendiriannya berawal dari kerusakan parah ekosistem terumbu karang akibat eksploitasi besar-besaran pada 1960–1970-an dan sedimentasi sungai, yang membuat nelayan kehilangan hasil tangkapan serta menimbulkan abrasi pantai. Dipelopori oleh Nyoman Sugiartha bersama warga lokal, sejak 2008 wilayah ini ditetapkan sebagai Daerah Perlindungan Laut pertama di desa. Bondalem Eco Dive bersama BUMDes Bondalem Sejahtera kini menjalankan konservasi dengan cara monitoring rutin, pembersihan bawah laut, penanaman karang, pelatihan restorasi, serta mengajak wisatawan berpartisipasi melalui eco-dive dan sertifikasi selam. Upaya ini terbukti berhasil meningkatkan tutupan karang hingga kategori “baik–sangat baik” dan mengembalikan keberlimpahan ikan karang, sehingga selaras menjaga lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sanggar Olah Seni Babakan Siliwangi (SOS.Baksil) adalah sebuah wadah kegiatan seni yang berlokasi di Hutan Raya Kota Bandung, didirikan atas gagasan Drs. Anang Sumarna pada 7 Desember 1982 dan resmi diresmikan pada 11 Desember 1982 oleh Joop Ave. Sanggar ini berfungsi sebagai tempat berkreasi, belajar melukis, melakukan kegiatan seni budaya, serta menyelenggarakan pameran seni rupa. Tujuan pendiriannya adalah memberikan ruang bagi seniman dan masyarakat untuk menyalurkan kreativitas serta menikmati karya seni. Sanggar ini menyambut pengunjung dari berbagai kalangan yang ingin merasakan suasana hutan sambil menikmati karya seni, sehingga menjadi pilihan wisata seni yang unik di Kota Bandung.
Kesenian Terbang Bandhung adalah komunitas seni tradisi yang tumbuh di Kota Pasuruan, Jawa Timur, sejak awal abad ke-20 sebagai warisan akulturasi budaya lokal dan Islam. Komunitas ini hadir untuk melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan kembali Terbang Bandhung sebagai ikon budaya daerah. Mereka melakukan pelestarian dengan cara mendokumentasikan, mengajarkan di sekolah maupun sanggar, menggelar pementasan rutin, hingga beradaptasi dengan karya seni kontemporer dan media digital. Tujuannya adalah menjaga agar kesenian ini tetap hidup dan relevan, menjadi kebanggaan masyarakat, sekaligus sarana pendidikan karakter bagi generasi muda. Nilai-nilai yang mereka junjung tinggi adalah kebersamaan, toleransi, spiritualitas, serta cinta pada budaya dan agama.